Peraih Medali Emas Olimpiade Fisika Asia IX
May 9, 2008
Jakarta, Rabu (30 April 2008) — Para peraih medali emas pada Olimpiade Fisika Asia IX atau The 9th Asian Physics Olympiad (APhO)Â di Ulaanbaatar, Mongolia pada 20-28 April 2008 menerima tabanas sebesar Rp.15 juta. Sementara peraih medali perak dan perunggu masing-masing menerima tabanas sebesar Rp.12,5 juta dan Rp.10 juta.
Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menyerahkan secara simbolis hadiah tabanas pada Rabu (30/04/2008) di Rumah Makan Ahyat, Senayan, Jakarta. Pada APhO IX Indonesia berhasil meraih tiga medali emas, satu medali perak, satu medali perunggu, dan empat Honorable Mention. Indonesia menempati peringkat kedua perolehan medali emas terbanyak setelah Cina.
Para peraih medali emas tersebut yakni, Adam Badra Cahaya (SMAN 1 Jember), Rudy Handoko Tanin (SMA Sutomo 1 Medan), dan Kevin Winata (SMAK 1 Penabur Jakarta). Sementara medali perak diraih oleh Thomas A. Nugraha Budi (SMAN 78 Jakarta), sedangkan medali perunggu diraih oleh Tyas Kokasih (SMA Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah).
Adapun peraih Honorable Mention adalah Panji Achmari (SMAN 3 Bandung, Jawa Barat), Winson (SMAK 1 Penabur Jakarta), Azzis Adi Suyono (SMAN 1 Cilacap, Jawa Tengah), dan Made Surya Adhiwirawan (SMAN 1 Denpasar).
Mendiknas mengapresiasi prestasi yang diraih oleh TIM AphO IX. Dia berharap prestasi ini akan merata di seluruh tanah air. “Saya betul-betul mengharapkan prestasi ini menjadi pemicu motivasi siswa/siswi Indonesia untuk berkinerja puncak level dunia, world class performance,” katanya.
Mendiknas mengatakan, bagi para peraih medali emas akan diusulkan kepada Presiden untuk mendapatkan Anugerah Satya Lancana Wirakarya. Selain itu, akan dijamin untuk masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes. Dia menambahkan, selama dua tahun berturut-turut pada 2006-2007 Indonesia telah mengakumulasi masing-masing 51 medali emas dari berbagai cabang kompetisi termasuk olahraga dan seni.
Ketua Tim Pembina Olimpiade Fisika Yohanes Surya mengatakan, para peraih medali emas, perak, dan perunggu pada APhO IX akan dipersiapkan untuk mengikuti 39th International Physics Olympiad pada 20-29 Juli 2008 di Hanoi, Vietnam.***
Sumber: Pers Depdiknas
Pendidikan Kesadaran Bela Negara
May 9, 2008
Jakarta, Selasa (6 Mei 2008) — Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) bekerjasama dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Kesadaran Bela Negara Pemuda Tingkat Nasional 2008. Kegiatan akan berlangsung pada 11 sampai dengan 22 Mei 2008 di Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur.
Demikian disampaikan Koordinator Kerjasama Sinergi Antar Kementerian/ Lembaga Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Depdiknas, Didik Sulistyanto. Dia mengatakan, kegiatan sinergi Depdiknas dan Kemenegpora sudah dilakukan sejak 2006, sedangkan kegiatan pendidikan kesadaran bela negara dimulai pada 2007. “Kegiatan akan melibatkan berbagai komponen pemuda di Indonesia,” katanya saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media, Depdiknas, Jakarta, Selasa (6/05/2008).
Didik menyebutkan, peserta yang terlibat sebanyak 100 orang yang terdiri atas DPP KNPI (5 orang), OKP Tingkat Nasional (27 orang), DPP KNPI/OKP Provinsi (33 orang), dan senat mahasiswa perguruan tinggi (35 orang). “Dari seratus peserta akan dipilih sepuluh besar untuk mendapatkan beasiswa dari Depdiknas. Selain itu, dipilih tiga (peserta) terfavorit,” ujarnya.
Sakhyan Asmara, Deputi I Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenegpora, menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan semangat bela negara dan kebangsaan di kalangan pemuda. “Target bela negara (adalah) membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda dan mahasiswa, agar pemuda bisa bersatu di antara perbedaan-perbedaan,” katanya.
Sakhyan menyebutkan, syarat peserta kegiatan adalah berusia 18 sampai dengan 35 tahun, pengurus inti organisasi, berijazah S1, dan bagi mahasiswa minimal telah menempuh kuliah sampai dengan semester enam. Didik menambahkan, informasi sinergi Depdiknas dapat diakses melalui internet di http://sinergi.diknas.go.id/. Adapun pelaksanaan kegiatan melibatkan Departemen Pertahanan, Lemhanas, KPK, Kopassus, Praktisi, Mahkamah Konstitusi, Tim ESQ, dan BKPM.***
Sumber: Pers Depdiknas
Anggaran TIK Pendidikan Hampir Rp.2 Triliun
May 9, 2008
Jakarta, Kamis (8 Mei 2008) — Selama kurun waktu dua tahun Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah mengalokasikan anggaran untuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebanyak hampir Rp.2 triliun. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menyebutkan, pada 2007 anggaran TIK sebanyak Rp.892,4 milyar atau 2,03 persen, sedangkan pada 2008 sebanyak Rp.1,08 triliun atau 2,4 persen. Alokasi anggaran tersebut sebagian besar untuk pengembangan laboratorium komputer sekolah.
Menurut Mendiknas, pemanfaatan TIK untuk pendidikan mampu meningkatkan akses, mutu, relevansi, dan daya saing, serta tata kelola pendidikan. “Sejak 2005 Depdiknas mulai memanfaatkan TIK secara besar-besaran untuk pendidikan,” katanya pada The Government Leaders Forum di Hotel Shangri-la, Jakarta, Kamis (8/05/08).
Kemudian, kata Mendiknas, pada 2006 Depdiknas membangun Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas), yang merupakan jejaring TIK terbesar di Indonesia. Langkah ini , lanjut Mendiknas, sejalan dengan komitmen Indonesia pada The World Summit of Information Society (WSIS).
Menurut Mendiknas, sesuai komitmen tersebut, pada 2015 Indonesia harus menghubungkan setengah dari keseluruhan sekolah pada jenjang SD, SMP, dan SMA dengan jejaring TIK, menghubungkan setengah pusat-pusat penelitian dengan jejaring TIK, menggunakan kurikulum yang sejalan dengan tantangan masyarakat di era informasi dan sesuai konteks dan kebutuhan nasional, serta mencapai 50 persen e-literasi secara nasional.
Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, pada 2009 Jardiknas akan menghubungkan sebanyak 1.489 atau 55 persen institusi perguruan tinggi (PT), sebanyak 27.297 atau 9,3 persen sekolah, dan sebanyak 10.000 atau 0,3 persen guru dan dosen. Mendiknas menyebutkan, jumlah komputer yang akan difungsikan sebanyak 40 unit di zona kantor, 300 unit per institusi PT, 40 unit per sekolah, dan satu unit per orang untuk zona perorangan. “Diperkirakan lebih dari 1,43 juta komputer akan terkoneksi pada 2009,” katanya.
Mendiknas menyebutkan, pada 2009 kapasitas atau bandwith Jardiknas akan mencapai 3,9 GBps (Giga Bit per second) dan kapasitas pusat data (data center) sebanyak 15 TB (Terra Byte). Jardiknas akan menangani sebanyak 2.000.000 konten berupa teks dan grafis. Selain itu, menyediakan akses untuk transaksi online dan transformasi informasi melalui tutorial online, tes online, ebook, ebursa, smart school, perpustakaan digital, jejaring penelitian, dan fasilitas video conference untuk pembelajaran jarak jauh.
Mendiknas menambahkan, selain Jardiknas, Depdiknas menayangkan materi pembelajaran melalui TV E (Televisi Edukasi). Sejak 2006, kata dia, Depdiknas telah mendistribusikan sebanyak 67.618 unit televisi, 27.483 pemutar DVD, dan 17.148 satellite disc (TVRO), dan 1.641 generator untuk daerah yang tidak teraliri listrik. “Pada 2008 disediakan saluran khusus untuk meng-upgrade kualifikasi dan kompetensi guru,†katanya.
Sementara itu, lanjut Mendiknas, untuk meningkatkan akses TIK ke sekolah di daerah terpencil, Depdiknas bekerjasama dengan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk menyediakan jaringan listrik di daerah tersebut dengan skema kerjasama publik dan swasta untuk meringankan beban pemerintah.***
Sumber: Pers Depdiknas
Wawancara Bill Gates
May 9, 2008
TERLAHIR sebagai William (Bill) H Gates pada tanggal 28 Oktober 1955, sebagai orang terkaya di dunia yang mendirikan perusahaan raksasa Microsoft Corporation, adalah orang yang tersibuk di dunia. Bill Gates mungkin memiliki kedudukan yang setara dengan para kepala negara di seluruh dunia, dan diperlakukan sebagai â€Kepala Negara Microsoftâ€, lengkap dengan protokoler dan sistem keamanan tersendiri.
Untuk melakukan wawancara dengan pendiri Microsoft bersama Paul Allen, teman semasa kecilnya, menjadi tidak mudah. Kompas hanya bisa melakukan wawancara melalui e-mail, sarana komunikasi digital yang mudah dan cepat bisa diakses Bill Gates di mana pun ia berada di dunia.
Bill Gates merencanakan untuk berhenti mengurus persoalan sehari-hari Microsoft, dan mulai bulan depan, ia akan memfokuskan pekerjaannya pada masalah kesehatan dan pendidikan global melalui Bill & Melinda Gates Foundation. Sampai dengan bulan Juni 2007, penghasilan Microsoft mencapai 51,12 miliar dollar AS dan mempekerjakan sekitar 78.000 orang di 105 negara.
Dari pertanyaan yang diajukan Kompas, Bill Gates sulit untuk memperkirakan jenis perangkat lunak apa yang kiranya ingin diciptakan 30 tahun lalu, sehingga menjadi lebih terjangkau bagi negara berkembang untuk ikut memiliki kesempatan menikmati keajaiban digitalisasi. â€Tetapi yang menarik sekarang ini adalah isu-isu yang terkait dengan keterjangkauan teknologi digital yang berhasil diselesaikan, seperti perangkat keras, penyimpanan, dan pita lebar jejaring (network bandwith), yang semuanya meningkat dalam ukuran dan tenaga, serta menurun dalam biaya,†kata Bill Gates dalam e-mail-nya.
Disebutkan, hasil dari semua ini adalah muncul berbagai perangkat komputasi dari berbagai jenis yang menjadi sangat bertenaga, murah, dan mudah dibawa-bawa. Sekarang, lanjut Gates, puluhan juta orang di negara-negara berkembang memiliki ponsel yang memiliki tenaga komputasi yang lebih bertenaga dibandingkan dengan komputer yang digunakan 30 tahun lalu.
â€Di masa mendatang, bagi orang di Indonesia dan ekonomi berkembang lainnya, sebuah ponsel akan menyediakan akses internet dan kemampuan komputasi yang memungkinkan mereka mulai berpartisipasi dalam ekonomi global berbasis pengetahuan,†tulis Gates.
Kekayaan intelektual
Ketika ditanya persoalan terkait pertumbuhan ekonomi di dalam sistem jejaring internet yang menghadirkan ketidakpastian, terutama berkaitan dengan persoalan hak cipta atas kekayaan intelektual, Bill Gates mengatakan memang masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjadikan konsumen lebih mudah dan tidak terbatas untuk berbelanja, berpengalaman, serta berbagi berbagai jenis media digital yang dijajakan di jaringan internet.
Namun, kata Gates, pada saat yang bersamaan apa pun sistem yang akan digunakan dalam mengembangkan sistem perekonomian di jejaring digital yang semakin pesat tumbuh dan berkembang, juga harus bisa melindungi HAKI orang-orang kreatif yang menulis dan memainkan musik, atau yang mengembangkan perangkat lunak, dan membuat film, video, serta menggunakan media apa pun.
â€Kekayaan intelektual adalah jantung inovasi dan ekonomi berbasis pengetahuan. Di Microsoft, kita selalu kuat percaya pentingnya hak atas kekayaan intelektual,†lanjut Gates. Dikatakan, akar dari kewiraswastaan dan proses kreatif adalah kesempatan untuk diakui dan dihargai, sehingga berbagai solusi berkaitan dengan kemajuan dan pemanfaatan teknologi komunikasi informasi sebagai basis pertumbuhan ekonomi dan perdagangan berbasis pengetahuan, harus menghadirkan solusi yang menyeimbangkan secara tepat antara harapan konsumen dan hak para pencipta.
Dalam pertemuan Bill Gates dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dibahas pemanfaatan teknologi informasi dalam pembangunan, dan Indonesia bertekad mengejar ketertinggalan pemanfaatan teknologi informasi di pemerintahan, pendidikan, bisnis, dan kesehatan.
Menjawab pertanyaan Bill Gates tentang akses internet di Indonesia, Presiden menjelaskan pekerjaan pemerintah untuk memperbaiki jaringan internet di seluruh Indonesia agar akses di daerah-daerah bisa lebih cepat dilakukan.
